Entahlah
setelah sekian lama aku melakukan perjalanan bolak balik Rawamangun-Depok belum
ada alternatif angkutan yang menjadikan
aku nyaman dalam perjalanan. Rasa tidak puas seakan menjalar. Mungkin ada yang
bisa ngasih saran? :| Apalah arti dari sebuah perjalanan, tapi ketika itu akan
menjadi sebuah kerutinan rasanya kok heeem gimana yaa, sesuatu deh :3 *oke
abaikan*
Lelahku
hilang begitu saja ketika tiba di rumah penuh kenangan ini. Entahlah, seperti
ada sebuah kenyamanan tersendiri ketika berada di rumah yang sudah ditempati
belasan tahun ini. Walau para penghuninya satu persatu sudah punya kesibukannya
masing-masing di berbagai daerah dan hanya berkumpul kembali pada momen-momen
liburan sekolah seperti ini. Langka dan aku tak ingin melewatkannya begitu
saja. Dengan sengatan sinar matahari selama perjalanan cukup membuat perjalanan
Rawamangun-Depok terasa lebih lama.
![]() |
| beli onlen pertama kali :3 |
Hey,
kau tahu apa yang aku dapatkan usai mengucap salam dan bergegas memasuki rumah.
Di atas meja cokelat itu, kau tahu apa yang kulihat? Bungkusan cokelat berlapis
plastik bening dengan stampel tanda pengiriman barang dan tertera namaku disana
sebagai penerimanya. Kau tahu, ini perasaan yang sama ketika SMA dulu, saat aku
memegang bungkusan cokelat yang aku terima ketika memesan buku dari seorang
penulis terkenal, penulis favorit kita. Entah perasaan apa ketika mendapatkan
bungkusan cokelat hasil pesanan langsung dari penulis terkenal itu. Ada rasa
senang tersendiri ketika mendapatkan langsung buku itu dari sang penulisnya.
Padahal aku tahu, puluhan bahkan ratusan orang juga sudah sering melakukan
pemesanan itu.
Dan
perasaan yang entah apa itu, kembali kurasakan siang ini. Ketika aku baru saja
tiba dari kota tempat menuntut ilmu saat ini. Kota yang sejak beberapa bulan
lalu menjadi tempatku berlabuh dan memulai episode kehidupan baru. Entah kota
apa lagi yang kaki ini akan injakkan pada episode hidupku nanti.
Langsung
kubuka bungkusan cokelat itu. Ya, bukumu sampai. Hei, jangan membuat aku
menangis saat membuka halaman pertama buku dengan kalimat darimu.
u/ kawan seperjuangan Sarah
Luthfiah.
Buku ini adalah kata penyapa ‘Hai’
yang akan dibalas dengan ‘Hello’ oleh Saluth. #maksudnya? I’ll be waiting ‘The
Best Author’ Saluth
Sangat
terharu aku membacanya :’) betapa semrawutnya dunia kepenulisanku sekarang.
Kalimat sederhana yang dengan dahsyatnya menamparku.
Tiba-tiba
saja pikiranku memutar masa lalu pada saat kampus peradaban menjadi tempat yang
masih ditemui kala membuka mata. Bermula dari celoteh dan satu mimpi kita yang
sama, yang pada saat itu bahkan aku hampir tidak yakin dengan terwujudnya mimpi
itu. Dengan rangkaian rencana yang terus kita susun untuk tercapainya mimpi
itu. Diselingi dengan tawa dan ucapan yang sering aku lontarkan, “ Tapi tidak
mungkinlah kita bisa mengundang dia kesini. Seperti mimpi sajalah jika kita
bisa membuat dia datang kesini.” Ucapan yang sering kali kau sanggah dan terus
yakin dengan mimpi kita. Ya, mimpi kita. Menghadirkan penulis terkenal itu. RencanaNya
memang indah. Terhitung bulan dan kita bisa mewujudkannya dengan
scenario-skenario dariNya. Kau tentu masih ingat bagaimana awal aku
menghubunginya lewat massage di facebook dengan hanya keisengan awal untuk
meminta motivasi dan tips untuk menulis, sampai pada akhirnya dia menyetujui
permintaanku untuk bisa mengisi acara kita. Antara percaya dan tidak. Antara
sikap lebayku dalam menghadapi situasi ini. Mungkin beginilah perasaan
seseorang yang bisa berhubungan dengan sosok idolanya yang sangat sangat sangat
diidolakan (oke, ini lebay -_-)
Haha
aku tersenyum mengingatnya. Ketika H-1 acara dan kita harus menelpon untuk
memastikan terkait penjemputan penulis itu. Ketika sangat groginya saat aku
menelpon bahkan susunan kata yang aku lontarkan nampak tak jelas (haha :3).
Ketika H-menit dan mobil jemputan itu belum tiba, dagdigdug hatiku itu rasanya
karuan tidak terkira menanti. Sampai pada akhirnya dikabarkan sudah tiba dan
sedang berada di kantor untuk istirahat dan makan siang, dan dengan tak
sabarnya kita untuk menemuinya. Ketika kau masuk ke ruangan lebih dulu untuk
menemuinya sedangkan seperti ada magnet padaku sehingga aku seperti tidak bisa ikut
masuk, haha aku sangat grogi saat itu. Ketika yang sangat penting terlupakan
yaitu membeli amplop untuk menaruh fee dan itu teringat di detik-detik ketika
penulis itu sudah ingin pulang dan menaiki mobil. Kau tentu masih ingat betapa
paniknya saat itu ketika menemaniku membeli amplop itu di syifamart. Sebut saja
Bang Tere, yang telah menyihir kita dan menjadi jalan pemersatu mimpi kita.
Kepingan
cerita yang selalu membuatku tersenyum sendiri dan yang selalu mengingatkanku
pada sebuah keyakinan mimpi.
Senja
di Surakarta.
![]() |
| ini sapaan 'Hai' |
Buku
yang menghadiri jiwa penulisnya pada setiap kata-kata. Tulisan yang selalu
kubayangkan si penulisnya dengan kertas dan pulpen selalu dipegangnya.
Kau
tahu, buku itu aku baca lepas sholat ashar dan dengan khusu membacanya tuntas
sebelum senja menjemput. Handphone yang terus bergetar aku hiraukan. Bahkan aku
hampir lupa menyalakan lampu yang sudah sangat redup dan memang harus
dinyalakan sore hari.
Terima
kasih. Doanya agar aku bisa segera membalas sapaanmu dengan ‘Hello’. Entah
kapan. Semoga sebelum kau menyapa dengan sapaan yang lain. :’))
Nb:
kata ganti ‘kau’ disini berlaku untuk banyak orang. Banyak ‘kau’ yang terlibat.
Apakah kau menjadi salah satu ‘kau’ pada tulisan ini? ;)
Setelah
sekian lama vakum menulis
Dan
langsung membuka folder tulisan dan melanjutkannya :)
29
Desember 2012, 21.56


Tidak ada komentar:
Posting Komentar