Selasa, 07 Januari 2014

KAU #1


Entahlah setelah sekian lama aku melakukan perjalanan bolak balik Rawamangun-Depok belum ada alternatif angkutan yang menjadikan aku nyaman dalam perjalanan. Rasa tidak puas seakan menjalar. Mungkin ada yang bisa ngasih saran? :| Apalah arti dari sebuah perjalanan, tapi ketika itu akan menjadi sebuah kerutinan rasanya kok heeem gimana yaa, sesuatu deh :3 *oke abaikan*

Lelahku hilang begitu saja ketika tiba di rumah penuh kenangan ini. Entahlah, seperti ada sebuah kenyamanan tersendiri ketika berada di rumah yang sudah ditempati belasan tahun ini. Walau para penghuninya satu persatu sudah punya kesibukannya masing-masing di berbagai daerah dan hanya berkumpul kembali pada momen-momen liburan sekolah seperti ini. Langka dan aku tak ingin melewatkannya begitu saja. Dengan sengatan sinar matahari selama perjalanan cukup membuat perjalanan Rawamangun-Depok terasa lebih lama.

beli onlen pertama kali :3
Hey, kau tahu apa yang aku dapatkan usai mengucap salam dan bergegas memasuki rumah. Di atas meja cokelat itu, kau tahu apa yang kulihat? Bungkusan cokelat berlapis plastik bening dengan stampel tanda pengiriman barang dan tertera namaku disana sebagai penerimanya. Kau tahu, ini perasaan yang sama ketika SMA dulu, saat aku memegang bungkusan cokelat yang aku terima ketika memesan buku dari seorang penulis terkenal, penulis favorit kita. Entah perasaan apa ketika mendapatkan bungkusan cokelat hasil pesanan langsung dari penulis terkenal itu. Ada rasa senang tersendiri ketika mendapatkan langsung buku itu dari sang penulisnya. Padahal aku tahu, puluhan bahkan ratusan orang juga sudah sering melakukan pemesanan itu.

Dan perasaan yang entah apa itu, kembali kurasakan siang ini. Ketika aku baru saja tiba dari kota tempat menuntut ilmu saat ini. Kota yang sejak beberapa bulan lalu menjadi tempatku berlabuh dan memulai episode kehidupan baru. Entah kota apa lagi yang kaki ini akan injakkan pada episode hidupku nanti.
Langsung kubuka bungkusan cokelat itu. Ya, bukumu sampai. Hei, jangan membuat aku menangis saat membuka halaman pertama buku dengan kalimat darimu.

u/ kawan seperjuangan Sarah Luthfiah.
Buku ini adalah kata penyapa ‘Hai’ yang akan dibalas dengan ‘Hello’ oleh Saluth. #maksudnya? I’ll be waiting ‘The Best Author’ Saluth

Sangat terharu aku membacanya :’) betapa semrawutnya dunia kepenulisanku sekarang. Kalimat sederhana yang dengan dahsyatnya menamparku.

Tiba-tiba saja pikiranku memutar masa lalu pada saat kampus peradaban menjadi tempat yang masih ditemui kala membuka mata. Bermula dari celoteh dan satu mimpi kita yang sama, yang pada saat itu bahkan aku hampir tidak yakin dengan terwujudnya mimpi itu. Dengan rangkaian rencana yang terus kita susun untuk tercapainya mimpi itu. Diselingi dengan tawa dan ucapan yang sering aku lontarkan, “ Tapi tidak mungkinlah kita bisa mengundang dia kesini. Seperti mimpi sajalah jika kita bisa membuat dia datang kesini.” Ucapan yang sering kali kau sanggah dan terus yakin dengan mimpi kita. Ya, mimpi kita. Menghadirkan penulis terkenal itu. RencanaNya memang indah. Terhitung bulan dan kita bisa mewujudkannya dengan scenario-skenario dariNya. Kau tentu masih ingat bagaimana awal aku menghubunginya lewat massage di facebook dengan hanya keisengan awal untuk meminta motivasi dan tips untuk menulis, sampai pada akhirnya dia menyetujui permintaanku untuk bisa mengisi acara kita. Antara percaya dan tidak. Antara sikap lebayku dalam menghadapi situasi ini. Mungkin beginilah perasaan seseorang yang bisa berhubungan dengan sosok idolanya yang sangat sangat sangat diidolakan (oke, ini lebay -_-)

Haha aku tersenyum mengingatnya. Ketika H-1 acara dan kita harus menelpon untuk memastikan terkait penjemputan penulis itu. Ketika sangat groginya saat aku menelpon bahkan susunan kata yang aku lontarkan nampak tak jelas (haha :3). Ketika H-menit dan mobil jemputan itu belum tiba, dagdigdug hatiku itu rasanya karuan tidak terkira menanti. Sampai pada akhirnya dikabarkan sudah tiba dan sedang berada di kantor untuk istirahat dan makan siang, dan dengan tak sabarnya kita untuk menemuinya. Ketika kau masuk ke ruangan lebih dulu untuk menemuinya sedangkan seperti ada magnet padaku sehingga aku seperti tidak bisa ikut masuk, haha aku sangat grogi saat itu. Ketika yang sangat penting terlupakan yaitu membeli amplop untuk menaruh fee dan itu teringat di detik-detik ketika penulis itu sudah ingin pulang dan menaiki mobil. Kau tentu masih ingat betapa paniknya saat itu ketika menemaniku membeli amplop itu di syifamart. Sebut saja Bang Tere, yang telah menyihir kita dan menjadi jalan pemersatu mimpi kita.

Kepingan cerita yang selalu membuatku tersenyum sendiri dan yang selalu mengingatkanku pada sebuah keyakinan mimpi.

Senja di Surakarta.
ini sapaan 'Hai'


Buku yang menghadiri jiwa penulisnya pada setiap kata-kata. Tulisan yang selalu kubayangkan si penulisnya dengan kertas dan pulpen selalu dipegangnya.
Kau tahu, buku itu aku baca lepas sholat ashar dan dengan khusu membacanya tuntas sebelum senja menjemput. Handphone yang terus bergetar aku hiraukan. Bahkan aku hampir lupa menyalakan lampu yang sudah sangat redup dan memang harus dinyalakan sore hari.
Terima kasih. Doanya agar aku bisa segera membalas sapaanmu dengan ‘Hello’. Entah kapan. Semoga sebelum kau menyapa dengan sapaan yang lain. :’))
Nb: kata ganti ‘kau’ disini berlaku untuk banyak orang. Banyak ‘kau’ yang terlibat. Apakah kau menjadi salah satu ‘kau’ pada tulisan ini? ;)

Setelah sekian lama vakum menulis
Dan langsung membuka folder tulisan dan melanjutkannya :)


29 Desember 2012, 21.56

Tidak ada komentar:

Posting Komentar