Kamis, 22 September 2016

Jual Kaos Kaki Cantik Murah

                         READY STOCK!

Kaos Kaki Cantik

- Kaos Kaki Jasmine
Ready warna: cokelat muda, pink, biru muda
Bahan: Spandek
Harga: 12.000

Kaos Kaki Jasmine

- Kaos Kaki Polkadot
Ready warna: cokelat muda, ungu tua, abu2 muda
Bahan: Spandek
Harga: 12.000
Kaos Kaki Polkadot

- Kaos Kaki Polos
Ready warna: cokelat muda, cokelat tua, hijau muda
Bahan: Spandek
Harga: 10.000
Kaos Kaki Polos


Hubungi:
5B900F49 (BBM)
0857 7376 7673 (WhatsApp)
saluthfiah (id line)
@kakikaosku (instagram)

PENGHABISAN! Jangan sampai kehabisan :)

Jumat, 11 Desember 2015

Di Bawah Naungan Panji Alquran

Mahasiswa? Hafal dengan lagu totalitas perjuangan dong? Harus! Memang, ketika kita resapi benar makna dari lirik si lagu ini dalam sekali untuk kita para pemuda.

IKHWANUL MUSLIMIN DI BAWAH NAUNGAN PANJI AL-QUR'AN
Kepada para pemuda
Yang merinduk lahirnya kejayaan …
Kepada umat yang tengah
Kebingungan di persimpangan jalan…
Kepada para pewaris peradaban yang kaya raya,
Yang telah menggoreskan catatan membanggakan
Di lembar sejarah umat manusia…
Kepada setiap muslim
Yang yakin akan masa depan dirinya
Sebagai pemimpin dunia dan peraih kebahagiaan
Di kampung akhirat…
Kepada mereka semua kami persembahkan risalah ini.

RISALAH IMAM SYAHID HASAN AL-BANNA
Adalah sebuah risalah masa lalu yang penuh kobaran semangat jihad, untuk generasi hari ini yang tengah bergejolak dan dilanda kegelisahan…
Sebuah bekal hari ini yang sarat tuntutan,
Untuk masa depan yang penuh cahaya…
Wahai para pemuda,
Wahai mereka yang memiliki cita-cita luhur
Untuk membangun kehidupan…
Wahai kalian yang rindu akan kemenangan agama Allah…
Wahai semua yang turun ke medan,
Demi mempersembahkan nyawa di hadapan Tuhannya…
Disinilah petunjuk itu, di sinilah bimbingan...
Di sinilah hikmah itu, disinilah kebenaran…
Di sini kalian dapati keharuman pengorbanan
Dan kenikmatan jihad…
Bersegeralah bergabung dengan parede bisu…
Untuk bekerja di bawah panji penghulu para nabi…
Untuk menyatu dengan pasukan Ikhwanul Muslimin…
"Sehingga tidak ada lagi fitnah di muka bumi dan agama
seluruhnya milik Allah."


Mendorong kita untuk terjun dengan dakwah ini…
dakwah yang tenang, namun lebih gemuruh
dari tiupan angin topan yang menderu…
dakwah yang rendah hati, namun lebih perkasa
dari keangkuhan gunung yang menjulang…
dakwah yang terbatas, namun jangkauannya
lebih luas dari belahan bumi seluruhnya…
Ia sepi dari prilaku yang menipu, dan gemerlap yang penuh dusta. Sebaliknya, ia dikemas oleh keagungan hakikat, keindahan wahyu, dan pemeliharaan Allah.
Ia bersih dari berbagai kerakusan nafsu dan kepentuingan pribadi. Oleh karenanya, ia mampu melahirkan putra-putra generasi yang percaya padanya dan tulus bekerja untuknya; yang memandu tertegaknya bangunan di bawah naungan dakwah yang pertama…
Wahai Ikhwanul Muslimin!
Wahai manusia seluruhnya.
Dangarlah suaranya yang bergemuruh, yang disambut oleh seruan para da'i setelahnya sebagaimana teriakan dakwah sebelumnya;
"Wahai yang berselimut, bangun dan berilah peringatran. Dan Tuhanmu maka agungkanlah."
Bersamaan dengan itu berkumandang pula firman-Nya,
"Maka sampaikanlah olehmu secara terang-terangan segala apa yang diperintahkan (kepadamu) dan berpalinglah dari orang-orang yang musyrik." (Al-Hijr: 94)
Dan wahyu senantiasa menyeru seluruh umat manusia dengan seruan,
"Katakanlah, 'Hai manusia sesungguhnya aku adalah utusan Allah kepadamu semua, yaitu Allah yang mempunyai kerajaan langit dan bumi; Tidak ada Tuhan selain Dia, Yang menghidupkan dan mematikan, 'maka berimanlah kepada Allah dan kepada kalimat-kalimat-Nya (Kitab-kitab-Nya) dan ikutilah dia, supaya kamu mendapat petunjuk," (Al-A'raf: 158)
Di mana posisi kita berhadapan pesan-pesan Islam ini?
Sesungguhnya Allah swt. telah membangkitkan untukmu seorang pemimpin, telah menggariskan bagimu aturan, telah menjelaskan kepadamu hukum-hukum, menurunkan untukmu sebuah Kitab, menghalalkan yang halal dan mengharamkan yang haram, membimbingmu menuju kebaikan dan kebahagiaan, serta menunjukimu ke jalan yang lurus. Adakah kamu telah mengikuti pemimpin itu, kamu hormati aturannya, kamu praktekkan hukum-hukumnya, dan kamu sakralkan Kitab yang dibawanya? Sudahkah kamu halalkan yang ia halalkan dan kamu haramkan yang ia haramkan?

Apa Lagi yang Masih Tersisa
Lihatlah masjid-masjid itu, yang megah dan indah, dia dipenuhi oleh orang-orang lemah dan renta, yang menunaikan rakaat shalatnya tanpa muatan ruh dan khusyuan, kecuali sedikit dari padanya yang mendapat hidayah Allah.
Sedangkan hari-hari puasa mereka setiap tahun tidak lebih dari sekedar saat-saat bermalasan dan berhari libur, serta saat untuk memanjakan makan dan minum di malam harinya. Sedikit sekali dari mereka yang memperoleh pembaharuan ruh iman dan penyucian hati dengan puasanya.
"Kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal sholeh, dan amat sedikitlah mereka itu…" (Shaad: 24)
Lalu berbagai penampilan yang menipu seperti pakaian, kopyah, tasbih dengan berbagai asesorisnya, jenggot yang menjuntai panjang, sorban yang membalut sekujur badan, kata-kata agamis yang diucapkan…. Apakah hanya sebatas itu hakekat Islam yang diinginkan Allah. Hanya sebatas itukah Islam yang diturunkan sebagai rahmat yang agung dan anugrah yang besar bagi seluruh alam?
Apakah seperti ini hidayah yang dibawa oleh Muhammad saw., yang dengannya hendak dikeluarkan manusia dari kegelapan menuju cahaya?
Itukah hakekat syari'at Al-Qur'an yang akan mengobati penyakit umat manusia dan menyelesaikan persoalan mereka, yang telah meletakkan sistem nilai -yang cermat dengan akarnya yang kokoh- untuk melakukan perbaikan?
Gelombang  Taklid Kepada Barat
Berbagai faham dan aliran bangkit dengan seruannya, beragam filsafat pemikiran dan sistem dimunculkan, berbagai bangunan peradaban ditegakkan, semua ini bersatu dalam rangka menghadapi arus Islam yang telah mengaliri jiwa putra-putranya.
Mereka bersatu untuk memperdayakan umat di tempat tingalnya sendiri, mengepung mereka dari segala penjuru, merasuki negeri dan rumah-rumah mereka, bahkan menguasai hati, nalar, dan perasaan mereka. Mereka menyiapkan segala daya dan upaya yang dapat memperdaya umat dengan kekuatan dan kekuasaannya, dengan suatu upaya yang belun pernah dilakukan sebelumnya.
Ia hancur luluhkan umat Islam hingga akar-akarnya, dan ia pencundangi berbagai negeri yang dahulu pernah cemerlang di bawah panji Daulah Islam. Dan ini semua memberi pengaruh yang amat nyata, sehingga lahirlah generasi yang gersang dan papa, yang lebih akrab dengan nilai-nilai di luar Islam daripada dengan miliknya sendiri.
Mereka lalu menempati posisi-posisi penting sebagai pengendali urusan umat, mereka menduduki posisi terhormat dalam urusan pemikiran dan politik, maupun moral dan agama. Bahkan banyak diantaranya yang menduduki lembaga eksekutif. Lalu mereka mendorong umat untuk bekerja memenuhi apa yang menjadi ambisi dan obsesinya, padahal dirinya tidak tahu persis apa yang dimauinya dan apa pula yang menjadi orientasi hidupnya.
Akhirnya, berkumandanglah suara propagandis yang menyeru kepada pemikiran toghut; jika kalian melepaskan sisi-sisa semangat Islam kalian, kalian terima dengan lapang dada tawaran untuk merengkuh nikmat hidup ini dengan segala harga, pola pikir dan Iafenomenanya, kalian lemparkan jauh-jauh pola pikir kuno yang ada di kepala dan benak kalian dengan tulus hati, tidak munafik dan menipu, maka hakikatnya kalian telah berprilaku sebagaimana orang-orang barat namun mulut kalian tetap bersuara sebagaimana orang-orang muslim.

URGENSI KEBERADAAN KITA
Secara umum dapat kita katakan bahwa kita berhadapan dengan gelombang materialisme, yang berupa kebangkitan sektor materi dan peradaban kelezatan serta syahwat, yang mana ia telah memerosotkan moral bangsa-bangsa Islam, menjauhkan mereka dari kepemimpinan Nabi saw. Dan hidayah Qur'an, menghalangi dunia dari bimbingannya, menarik mundur peradabannya ke masa ratusan tahun silam sehingga kita terbelenggu di negeri sendiri dan membiarkan masyarakat bergulat dengan derita.
Kita tidak boleh tinggal diam di hadapan ini semua, namun harus hadapi mereka ditempatnya dan siap bertempur di bumi mana ia bercokol, hingga dunia seluruhnya menyuarakan dakwah atas nama Nabi saw. Dan menanamkan keyakinan kepada semua bangsa terhadap nilai-nilai Islam.
Dengan demikian, terkembanglah payung  Islam mengayomi seluruh bumi. Ketika itulah impian setiap muslim terwujud. Tidak ada lagi fitnah dan agama seluruhnya hanya milik Allah.
"Bagi Allah-lah urusan sebelum dan sesudah (mereka menang). Dan di hari kemenangan itu bergembiralah orang-orang yang beriman karena pertolongan Allah. Dia menolong siapa saja yang dikehendaki-Nya dan Dialah yang Mahaperkasa lagi Maha Penyayang." (A-Ruum: 30)
Menegakkan sistem perundangan dalam negeri, sebagai perwujudan firman Allah,
"Dan hendaklah kamu memutuskan perkara di antara mereka menurut apa yang diturunkan Allah, dan janganlah kamu mengikuti hawa nafsu mereka. Dan berhati-hartilah kamu terhadap mereka supaya mereka tidak memalingkan kamu dari sebagian apa yang diturunkan Allah kepadamu…" (Al-Maidah: 49)
Menegakkan sistem perundangan yang mengatur hubungan negara dengan berbagai bangsa di dunia, untuk mewujudkan firman Allah,
"Dan demikian pula Kami telah menjadikan kamu (umat Islam) umat yang adil dan pilihan agar kamu menjadi saksi atas (perbuatan) manusia agar Rasul (Muhammad) menjadi saksi atas (perbuatan) kamu…" (Al-Baqarah: 143)
Menegakkan hukum peradilan yang berpijak pada ayat Al-Qur;an,
"Maka demi Tuhanmu, mereka (pada hakikatnya) tidak beriman hingga mereka menjadikan kami hakim terhadap perkara yang mereka perselisihkan, kemudian mereka tidak merasa dalam hati mereka sesuatu keberatan terhadap putusan yang kamu berikan dan mereka menerima dengan sepenuhnya." (An-Nisa: 65)
Menegakkan sistem perundangan pertahanan dan keamanan serta militer, untuk merealisasi anjuran sikap siaga menghadapi perintah yang tertuang dalam Qur'an,
"Berangkatlah kamu baik dalam keadaan merasa ringan ataupun merasa berat, dan berjihadlah dengan harta dan dirimu di jalan Allah" (At-Taubah: 41)
Menegakkan sistem ekonomi yang mandiri untuk mengatur kekayaan alam harta benda, baik bagi negara maupun pribadi warganya. Hal ini berpijak pada firman Allah,
"Dan janganlah kamu serahkan kepada orang-orang yang tidak sempurna akalnya harta yang dijadikan Allah sebagai pokok kehidupan." (An-Nisa:5 )
Menegakkan sistem pendidikan dan pengajaran dalam rangka memberantas kebodohan, sesuai dengan pesan Ilahi dalam Qur'an,
"Bacalah dengan menyebut Nama Tuhanmu yang menciptakan." (Al-Alaq: 1)
Menegakkan undang-undang keluarga dan kerumahtanggaan untuk menciptakan suasana yang kondusif bagi pendidikan anak di rumah, baik putra maupun putri. Hal ini sebagia realisasi firman Allah,
"Wahai orang-orang yang beriman jagalah diri dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu…" (At-Tahrim: 6)
Menegakkan sistem perundangan yang mengatur perilaku individu untuk mewujudkan keberhasilan hidup yang dicita-citakan, sesuai dengan isyarat Qur'an,
"Telah beruntung orang yang mensucikan dirinya."  (Asy-Syams)
Menegakkan iklim positif secara umum untuk melindungi setiap pribadi masyarakat, baik pejabat maupun rakyat, dengan berpijak pada firman-Nya,
"Dan carilah pada apa yang  telah dianugrahkan Allah kepadamu (kebahagiaan) negeri akhirat, dan janganlah kamu melupakan bagianmu dari kehidupan duniawi, dan berbuat baiklah sebagaimana Allah telah berbuat baik kepadamu, dan janganlah kamu berbuat kerusakan di muka bumi ini.." (Al-Qashash: 77)

BEKAL KAMI
Bekal kami adalah bekal yang juga dimiliki para pendahulu kami. Dia adalah senjata yang pernah dipakai untuk memerangi dunia oleh pemimpin dan teladan kami; Muhammad Rasulullah saw. Dan para sahabatnya. Dengan kelangkaan bilangan dan sedikitnya bekal namun ditopang oleh kesungguhan yang agung. Itu pula senjata yang akan kami pergunakan untuk memerangi dunia ini kembali.
Mereka telah beriman dengan sedalam-dalamnya, sekuat-kuatnya, sesuci-sucinya dan seabadi-abadinya iman.
Iman kepada Allah, pertolongan, dan dukungan-Nya.
"Jika Allah menolong kamu , maka tidak ada orang yang dapat mengalahkan kamu…" (Ali Imran: 160)
Iman kepada panglimanya, beserta ketulusan hati, dan kepemimpinannya,
"Sesungguhnya telah ada pada diri Rasulullah itu suri tauladan yang baik bagimu…" (Al-Ahzab: 21)
Iman kepada sistem dengan keistimewaan dan keunggulannya.
"Sesungguhnya telah datang kepadamu cahaya dari Allah dan kitab yang menerangkan. Dengan kitab itulah Allah menunjuki orang-orang yang mengikuti keridhan-Nya ke jalan keselamatan…" (Al-Maidah: 16)
Iman kepada persaudaraan dengan hak dan kewajiban serta kesuciannya.
"Sesungguhnya orang-orang mukmin itu bersaudara…" (Al-Hujurat: 49)
Iman kepada balasan akhirat dengan keagungan dan kelipatannya.
"…Yang demikian itu adalah karena mereka tidak ditimpa kehausan, kepayahan, dan kelaparan di jalan Allah, dan tidak pula menginjak suatu tempat yang membangkitkan amarah orang-orang kafir, dan tidak menimpakan sesuatu bencana kepada musuh, melainkan dituliskanlah bagi mereka dengan yang demikian itu suatu amal shaleh. Sesungguhnya Allah tidak menyia-nyiakan pahala orang-orang yang berbuat baik.: (At-Taibah: 120)
Iman kepada keberadaan diri mereka sendiri, yakni sebagai jamaah yang dipilih oleh takdir untuk berperan menyelamatkan alam semesta ini, yang telah mendapatkan keutamaan dengan peranannya ini dan jadilah mereka sebaik-baik umat yang dilahirkan untuk manusia seluruhnya.
Mereka telah mendengar penggilan iman, lalu mereka pun beriman. Kita berharap bahwa Allah swt. berkenan menanamkan rasa cinta kepada iman ini dan menjadikannya sebagai hiasan di hati, sebagaimana ia telah menganugrahkan hal yang sama kepada para pendahulu kita.
 
Iman Adalah Bekal Utama Kami
Mereka telah mengetahui dengan pengetahuan yang sebenar-benarnya dan sekuat-kuatnya bahwa dakwah mereka tidak akan memperoleh kemenangan kecuali dengan jihad, kesungguhan, dan pengorbanan jiwa raga. Maka mereka pun persembahkan jiwa dan raganya. Mereka berjihad dengan sebenar-benar jihad dan menyambut seruan Dzat Yang Maha Rahman kepada mereka,
"Katakanlah, 'Jika bapak-bapak, anak-anak, saudara-saudara, istri-istri, kaum keluargamu, harta kekayaan yang kamu usahakan, perniagaan yang kamu khawatiri kerugiannya, dan rumah-rumah tempat tinggal yang kamu sukai, adalah lebih kamu cintai daripada Allah dan Rasul-Nya dan berjihad di jalan-Nya, maka tunggulah sampai Allah mendatangkan keputusan-Nya.."' (At-taubah: 24)

Jihad Adalah Bekal Kami juga
Setelah itu semua kami persembahkan, kami percaya sepenuhnya akan pertolongan Allah, dan kami yakin atas dukungan-Nya.
"Sesungguhnya Allah pasti menolong orang yang menolong (agama)-Nya. Sesungguhnya Allah Mahakuat lagi Mahaperkasa. Yaitu orang-orang yang jika Kami teguhkan kedudukan mereka di muka bumi niscaya mereka mendirikan shalat, menunaikan zakat, menyuruh berbuat yang ma'ruf dan mencegah perbuatan yang mungkar, dan kepada Allah-lah kembali segala urusan."(Al-Hajj:40)

Antara Hayalan dan Kenyataan
Orang-orang yang mendengar uraian ini akan berkata. bahwa itu adalah hayalan dan impian belaka.
Bagaimana mungkin orang-orang yang tidak memiliki kekuatan apapun kecuali iman dan semangat jihad dapat mengalahkan kekuatan raksasa yang memiliki senjata beranekaragam?
Bagaimana mungkin mereka dapat menembus jantung pertahanan musuhnya padahal ia berada di antara dua taring harimau ?
Banyak orang akan mengatakan ungkapan yang serupa ini. Yang demikian itu bisa dimaklumi, karena mereka telah putus asa akan nasib dirinya dan telah putus asa akan terjalinnya hubungan dengan Yang Mahakuat dan Maha Menentukan.
Akan halnya kami, tidaklah demikian keadaannya. Kami tegaskan bahwa ia adalah kenyataan yang kami yakini wujudnya dan tengah kami perjuangkan tegaknya. Kami merenungi firman Allah swt.,
"Janganlah kamu berhati lemah dalam mengejar mereka (musuhmu). Jika kamu menderita kesakitan, maka sesungguhnya merekapun menderita kesakitan sebagaimana kamu menderitanya, sedangkan kamu berharap dari Allah apa yang tidak mereka harapkan.." (An-Nisa: 104)

Lalu Apa Lagi Setelah Itu ?
Setelah itu semua, kita menyaksikan telinga zaman dengan khusyuknya mendengarkan dakwah Rasulullah saw., lisan sejarah pun menggemakan suara ayat-ayat suci Al-Qur'an, maka menyemburatlah mentari hidayah dari kalbu para sahabat dan pengikutnya di setiap tempat, besinarlah cahayanya menerangi alam, semerbaklah harum bunga kedamaian menghiasi dunia, dan manusia pun dapat menikmati manisnya kebahagiaan lantaran keadilan hukum. Rakyat merasakan aman sentausa bernaung di bawah payung generasi awal ini, yakni murid-murid Muhammad saw., maka direbutlah kemudian istana Romawi, tunduk pula bersamanya kota-kota di
"Maka bersabarlah kamu, sesungguhnya janji Allah adalah benar dan sekali-kali janganlah orang-orang yang tidak meyakini (kebenaran ayat-ayat Allah) itu menggelisahkan kamu." (Ar-Ruum 30)

Seandainya Kita Memiliki Pemerintahan
Seandainya kita memiliki pemerintahan Islam yang sebenarnya yang dilandasi kebenaran iman, yang mandiri pola pikir dan aplikasinya, yang menghargai kebenaran ilmu dan melimpah ruahnya harta kekayaan yang dimiliki, yang menghargai keagungan sistem nilai Islam yang diwarisi, dan yang percaya bahwa ia merupakan obat bagi derita masyarakatnya dan petunjuk bagi manusia seluruhnya, niscaya kita dapat menuntutnya untuk menegakkan dunia ini atas nama Islam.
Kemudian kita mempersilahkan berbagai bangsa untuk melakukan Studi dan observasi atasnya, kita tunjukkan bangunan umat kepada mereka dengan dakwah yang terus menerus, dengan pembicaraan yang argumentatif serta pengiriman duta-duta terbaiknya secara berkala, juga cara-cara lainnya. Dengan demikian jadilah wilayah ini titik sentral di tengah berbagai bangsa, baik secara politik, moralitas maupun aktivitas sosial lainnya. Ia pun dapat melakukan pembaharuan terhadap dinamika masyarakat, memberi dorongan kepada mereka untuk meraih kejayaan dan menggapai sinar terang di masa datang, dan menanamkan semangat serta kesungguhan dalam bekerja.
Orang-orang yang jiwanya, rumah tangganya serta urusan hidupnya, baik yang pribadi maupun sosial telah kehilangan ruh Islamnya, tentu. tidak mampu mengalirkannya. kepada orang lain, tidak kuasa untuk menyerukan nilai-nilai dakwah yang bertentangan dengan sasaran yang diseru.
Sebuah ungkapan mengatakan, "Orang yang tidak memiliki sesuatu tidak dapat memberikannya."
Memang bukan itu urgensi keberadaan mereka, wahai Ikhwan. Suatu eksperimen telah membuktikan bahwa mereka tidak berdaya sama sekali dalam mengemban tugas ini. Oleh karenanya, ini menjadi tugas generasi baru.
Perbaikilah aktivitas dakwahmu kepada mereka, bersungguh-sungguhlah dalam melakukan pembinaan, ajarilah mereka akan kemandirian jiwa dan hati, kemandirian pemikiran dan penalaran, dan kemandirian kerja dan jihad. Penuhilah jiwa mereka yang enerjik dengan keagungan Islam dan keindahan Qur'an, dan gemblenglah mereka di bawah kibaran panji Muhammad saw. Niscaya tidak lama lagi kalian akan menyaksikan munculnya seorang pemimpin Islam, yang siap berjuang memerangi aib dirinya. dan siap menciptakan kebahagiaan bagi orang lain.

Karakter Pola Pikir Kami

Kami bukan partai politik, meskipun politik sebagai salah satu pilar Islam adalah prinsip kami.
Kami bukan yayasan sosial dan perbaikan, meskipun kerja sosial dan perbaikan adalah bagian dari maksud besar kami.
Kami bukan klub olah raga, meskipun olah raga dan olah rohani menjadi salah satu perangkat terpenting kami.
Kami bukan kelompok-kelompok macam itu semua, karena itu semua diciptakan untuk tujuan parsial dan terbatas, untuk masa yang terbatas pula. Bahkan terkadang tidak dibuat kecuali sekedar menuruti perasaan sesaat; ingin membuat organisasi, lalu dihias dengan berbagai slogan dan sebutan kelembagaan yang muluk-muluk.
Namun wahai sekalian manusia, kami adalah pemikiran dan akidah, hukum dan sistem, yang tidak dibatasi oleh tema, tidak diikat oleh jenis suku bangsa, dan tidak berdiri berhadapan dengan batas geografis. Perjalanan kami tidak pernah berhenti sehingga Allah swt. mewariskan bumi ini dengan segala isinya kepada kami, karena ia adalah sistem milik Rabb, Penguasa alam semesta, dan ajaran milik rasul-Nya yang terpercaya.
Kalian telah berdakwah dan telah pula berjihad. Dan kalian telah menyaksikan buah dari kesungguhan kalian yang besar ini.
Dengarlah, suara dakwah menggema, menyeru kepada kepemimpinan Rasulullah saw. dan keunggulan undang-undang Qur'an, menyeru kepada kebangkitan untuk berkarya dan memurnikan tujuan hanya untuk Allah swt. semata.
Lihatlah, darah telah mengalir di jalan Allah dari para pemuda yang suci dan mulia, dan lihatlah pula semangat untuk meraih syahadah (mati syahid) di jalan Allah telah berkobar.
Ini semua adalah keberhasilan. Sebuah keberhasilan yang lebih besar dari sekedar apa-apa yang kalian nantikan. Maka teruskan perjuanganmu, berkaryalah secara nyata, Allah selalu bersamamu, sedangkan amalmu sekali-kah tidaklah sia-sia.
"Dan sesungguhnya, inilah jalan-Ku yang lurus, maka ikutilah dia, dan janganlah kamu ikuti jalan-jalan (yang lain), karena jalan-jalan itu mencerai-beraikan kamu dari jalan-Nya. Yang demikian itu diperintahkan oleh Allah agar kamu bertaqwa," (Al-Anam: 153)

Hasan Al-Banna

Senin, 04 Mei 2015

PKMU 2

Mengikuti rangkaian acara PKMU 2 yang sangat luar biasa. Banyak rasa, pengalaman, pembelajaran yang membekas pada diri.
Bahkan sejak awal keberangkatan berjumpa dengan teman di Stasiun Kota. Masih menerka apa yang nanti akan didapatkan dan dilakukan.
perjalanan yang luar biasa, tak terasa. Sudah sampai tempat tujuan. Dilanjutkan dengan upacara pembukaan dan langsung diiringi menuju Homestay masing-masing kelompok.

Bertemu dengan pemilik rumah yang ramah dan sangat bersedia rumahnya untuk ditinggali dan dipenuhi.

Rangkaian acara dipenuhi dengan presentasi penugasan yang diberikan. Kunjungan ke kementrian, universitas, dan berbagai unit dalam kampus. Semua kelompok mempresentasikan secara bergantian
Suasana diskusi dan presentasi pun terasa, banyak informasi baru yang didapatkan.

Materi seru dari Kak Abdul Aziz dengan tema kontra intelejen. Mendengarkan banyak cerita pengalaman dari beliau yang mengesankan. Singkat materinya menjelaskan bahwa intel merupakan informasi data yang akurat. Dan kontra intelejen ini berarti pengecoh data lawan. Tujuannya adalah memutarbalikkan informasi sehingga data yang diterima pun salah.
Singkatnya waktu, tak terasa. Ketika adzan dzuhur berkumandang pun materi diselesaikan.

Materi dari pembicara inspiratif lainnya, dari Kak Akmal Diki. Cerita dan diskusi terkait dengan Public Relation. Kuncinya adalah pada cashing diri yang akhirnya bisa berpengaruh kepada banyak hal.

Pada hari selanjutnya Pra Pengabdian Masyarakat pun dilakukan, setiap kelompok dibagi, ada yang mengajar dan juga kerja bakti.
Diakhiri dengan kapita selekta dari BEM UNJ yang dipaparkan oleh Kak Roni dan Kak Irvandi.

Setelah penutupan, kami berpamitan pada masing-masing keluarga. Perjalanan pulang pun dimulai

Minggu, 20 April 2014

Ini Tentang Kita



Seperti ada pada masa lalu. Sama. Tapi berbeda.
Ketika hampa yang menyapa. Ketika rindu yang beradu.
Ketika hanya sebuah sesal yang menyelimuti.
Kepada siapakah?
Mungkin pribadi inilah yang menjadi tolak utamanya. Mungkin tingkah laku inilah yang menjadi sarangnya.

Karena kepahaman tak bisa dipaksakan.
Karena sebuah rasa nyaman tak bisa untuk diselaraskan ringan.
Ketika hati belum merasa. Ketika DIA belum memakai kehendaknya.

Do'a dan usaha.
Jangan terhenti. Jangan lengah sampai melupakan.
Karena berharap pada manusia hanya akan melahirkan kekecewaan.
Yang bisa kita lakukan?
Do'a yang tak pernah putus. Do'a yang menjadi jalannya. Do'a yang menjadi sumber kekuatan utama.
Karena DIA yang maha membolak-balikkan hati hamba-hambaNya.

Sedih? Tapi tak boleh larut.
Percayalah dengan rindu riang yang menanti di luar sana.
Masih banyak sosok yang menunggu. Masih banyak sosok yang siap untuk melaku.

Refleksi diri.



@saluth
Rawamangun, 
21/04/2014, 10:50


Selasa, 08 April 2014

AKU M3MILIH


Biarlah anak kemarin sore ini bebas menuliskan. Apa saja. Yang ia rasa hari ini.
Lihat sepanjang jalan. TPS-TPS selesai disiapkan. Ada tenda dibentangkan, kursi-kursi rapi dijejerkan, kotak suara siap untuk digunakan. Maka memilih siap kita lakukan.
Gemuruh. Haru di dada. Entahlah. Ada sebuah harapan. Yakin dengan perubahan keadaan IndonesiaKita yang telah banyak terjadi kedzaliman. Harapan itu masih ada. Menjadikan Indonesia dengan pemimpin-pemimpin yang jujur, bahkan walau hanya satu butir nasi saja enggan memakannya ketika bukan pemiliknya. Perkataannya benar, sejalan dengan perbuatannya. Pemimpin yang amanah dalam jabatannya. Dapat dipercaya. Melakukan suatu urusan dengan sebaik-baiknya ketika diserahkan kepadanya. Pemimpin yang sopan tutur katanya, menyampaikan segalanya dengan baik dan terbuka. Pemimpin cerdas yang tahu sikap terbaik yang harus dijalankan untuk rakyatnya.
Ya. Sifat-sifat Rasulullah SAW yang selalu kita coba amalkan. Semoga bisa dan selalu tertanam pada diri kita. Pada pemimpin-pemimpin kita nanti. Pada penjuang-pejuangNya yang selalu mengharapkan ridhoNya. Masih ada pemimpin yang siap kita pilih. Masih ada pemimpin yang ikhlas jiwa raganya hanya karenaNya. untuk Islam, untuk Indonesia.
Maka dukungan kita pun diperlukan. Dengan suara. Dengan doa. Agar tak lagi jatuh kekuasaan di tangan yang salah. Agar tak ada lagi kebijakan pemerintah yang keluar dari syariatNya. Yakinlah. Sudah sama-sama tahu apa yang terjadi di IndonesiaKita belakangan ini. Bahkan fakta di negara-negara Islam lainnya.
Masih ingin golput? Masih tak peduli dengan IndonesiaKita? Masih merasa pemilu ini hanya sebuah rutinitas yang tak berguna? Pilihan kita untuk IndonesiaKita. Pilihan kita yang mewakilkan suara kita untuk IndonesiaKita.
Satu suara sangat berarti untuk IndonesiaKita. Pemilih cerdas menggunakan hak pilihnya dengan cerdas. Tau siapa yang harus dipilihnya. Yang selalu mendekatkan diri kita kepadaNya.
Biarlah anak kemarin sore ini bebas menuliskan. Apa saja. Yang ia rasa hari ini. Teringat pemilu lalu. Walau belum bisa memakai hak suara. Layaknya penonton bola yang hanya bisa menyaksikan di layar kaca. Serius. Acapkali bergumam tak jelas. Mengomentari. Melihat polling quick count saja deg-degan. Bahkan waktu itu aku tak memilih. 
Tahun ini. Ini untuk pertama kali aku ikut memilih untuk IndonesiaKita. Menanti kebangkitan Islam di Indonesia.

"Kita tidak menghamba pada sistemnya, namun mengambil kebaikan dan peluang yang diberikannya. Partai hanyalah alat, dan alat akan tergantung pada siapa yang menggunakannya, sedangkan kita semua hanyalah manusia yang seringkali khilaf. Mari bersatu dan saling memaafkan, berjuang bersama partai-partai Islam." (Ust. Akmal Sjafril)
KOBARKAN SEMANGAT INDONESIA!

Dari kota nanas menuju kota belimbing untuk INDONESIA
Selasa, 08 April 2014, 23:35