Biarlah anak kemarin sore ini bebas menuliskan. Apa saja. Yang ia rasa hari ini.
Lihat sepanjang jalan. TPS-TPS selesai disiapkan. Ada tenda dibentangkan, kursi-kursi rapi dijejerkan, kotak suara siap untuk digunakan. Maka memilih siap kita lakukan.
Gemuruh. Haru di dada. Entahlah. Ada sebuah harapan. Yakin dengan perubahan keadaan IndonesiaKita yang telah banyak terjadi kedzaliman. Harapan itu masih ada. Menjadikan Indonesia dengan pemimpin-pemimpin yang jujur, bahkan walau hanya satu butir nasi saja enggan memakannya ketika bukan pemiliknya. Perkataannya benar, sejalan dengan perbuatannya. Pemimpin yang amanah dalam jabatannya. Dapat dipercaya. Melakukan suatu urusan dengan sebaik-baiknya ketika diserahkan kepadanya. Pemimpin yang sopan tutur katanya, menyampaikan segalanya dengan baik dan terbuka. Pemimpin cerdas yang tahu sikap terbaik yang harus dijalankan untuk rakyatnya.
Ya. Sifat-sifat Rasulullah SAW yang selalu kita coba amalkan. Semoga bisa dan selalu tertanam pada diri kita. Pada pemimpin-pemimpin kita nanti. Pada penjuang-pejuangNya yang selalu mengharapkan ridhoNya. Masih ada pemimpin yang siap kita pilih. Masih ada pemimpin yang ikhlas jiwa raganya hanya karenaNya. untuk Islam, untuk Indonesia.
Maka dukungan kita pun diperlukan. Dengan suara. Dengan doa. Agar tak lagi jatuh kekuasaan di tangan yang salah. Agar tak ada lagi kebijakan pemerintah yang keluar dari syariatNya. Yakinlah. Sudah sama-sama tahu apa yang terjadi di IndonesiaKita belakangan ini. Bahkan fakta di negara-negara Islam lainnya.
Masih ingin golput? Masih tak peduli dengan IndonesiaKita? Masih merasa pemilu ini hanya sebuah rutinitas yang tak berguna? Pilihan kita untuk IndonesiaKita. Pilihan kita yang mewakilkan suara kita untuk IndonesiaKita.
Satu suara sangat berarti untuk IndonesiaKita. Pemilih cerdas menggunakan hak pilihnya dengan cerdas. Tau siapa yang harus dipilihnya. Yang selalu mendekatkan diri kita kepadaNya.
Biarlah anak kemarin sore ini bebas menuliskan. Apa saja. Yang ia rasa hari ini.
Teringat pemilu lalu. Walau belum bisa memakai hak suara. Layaknya penonton bola yang hanya bisa menyaksikan di layar kaca. Serius. Acapkali bergumam tak jelas. Mengomentari. Melihat polling quick count saja deg-degan. Bahkan waktu itu aku tak memilih.
Tahun ini. Ini untuk pertama kali aku ikut memilih untuk IndonesiaKita. Menanti kebangkitan Islam di Indonesia.
"Kita tidak menghamba pada sistemnya, namun mengambil kebaikan dan peluang yang diberikannya. Partai hanyalah alat, dan alat akan tergantung pada siapa yang menggunakannya, sedangkan kita semua hanyalah manusia yang seringkali khilaf. Mari bersatu dan saling memaafkan, berjuang bersama partai-partai Islam." (Ust. Akmal Sjafril)
KOBARKAN SEMANGAT INDONESIA!
Dari kota nanas menuju kota belimbing untuk INDONESIA
Selasa, 08 April 2014, 23:35
Tidak ada komentar:
Posting Komentar