Minggu, 20 April 2014
Ini Tentang Kita
Seperti ada pada masa lalu. Sama. Tapi berbeda.
Ketika hampa yang menyapa. Ketika rindu yang beradu.
Ketika hanya sebuah sesal yang menyelimuti.
Kepada siapakah?
Mungkin pribadi inilah yang menjadi tolak utamanya. Mungkin tingkah laku inilah yang menjadi sarangnya.
Karena kepahaman tak bisa dipaksakan.
Karena sebuah rasa nyaman tak bisa untuk diselaraskan ringan.
Ketika hati belum merasa. Ketika DIA belum memakai kehendaknya.
Do'a dan usaha.
Jangan terhenti. Jangan lengah sampai melupakan.
Karena berharap pada manusia hanya akan melahirkan kekecewaan.
Yang bisa kita lakukan?
Do'a yang tak pernah putus. Do'a yang menjadi jalannya. Do'a yang menjadi sumber kekuatan utama.
Karena DIA yang maha membolak-balikkan hati hamba-hambaNya.
Sedih? Tapi tak boleh larut.
Percayalah dengan rindu riang yang menanti di luar sana.
Masih banyak sosok yang menunggu. Masih banyak sosok yang siap untuk melaku.
Refleksi diri.
@saluth
Rawamangun,
21/04/2014, 10:50
Selasa, 08 April 2014
AKU M3MILIH
Biarlah anak kemarin sore ini bebas menuliskan. Apa saja. Yang ia rasa hari ini.
Lihat sepanjang jalan. TPS-TPS selesai disiapkan. Ada tenda dibentangkan, kursi-kursi rapi dijejerkan, kotak suara siap untuk digunakan. Maka memilih siap kita lakukan.
Gemuruh. Haru di dada. Entahlah. Ada sebuah harapan. Yakin dengan perubahan keadaan IndonesiaKita yang telah banyak terjadi kedzaliman. Harapan itu masih ada. Menjadikan Indonesia dengan pemimpin-pemimpin yang jujur, bahkan walau hanya satu butir nasi saja enggan memakannya ketika bukan pemiliknya. Perkataannya benar, sejalan dengan perbuatannya. Pemimpin yang amanah dalam jabatannya. Dapat dipercaya. Melakukan suatu urusan dengan sebaik-baiknya ketika diserahkan kepadanya. Pemimpin yang sopan tutur katanya, menyampaikan segalanya dengan baik dan terbuka. Pemimpin cerdas yang tahu sikap terbaik yang harus dijalankan untuk rakyatnya.
Ya. Sifat-sifat Rasulullah SAW yang selalu kita coba amalkan. Semoga bisa dan selalu tertanam pada diri kita. Pada pemimpin-pemimpin kita nanti. Pada penjuang-pejuangNya yang selalu mengharapkan ridhoNya. Masih ada pemimpin yang siap kita pilih. Masih ada pemimpin yang ikhlas jiwa raganya hanya karenaNya. untuk Islam, untuk Indonesia.
Maka dukungan kita pun diperlukan. Dengan suara. Dengan doa. Agar tak lagi jatuh kekuasaan di tangan yang salah. Agar tak ada lagi kebijakan pemerintah yang keluar dari syariatNya. Yakinlah. Sudah sama-sama tahu apa yang terjadi di IndonesiaKita belakangan ini. Bahkan fakta di negara-negara Islam lainnya.
Masih ingin golput? Masih tak peduli dengan IndonesiaKita? Masih merasa pemilu ini hanya sebuah rutinitas yang tak berguna? Pilihan kita untuk IndonesiaKita. Pilihan kita yang mewakilkan suara kita untuk IndonesiaKita.
Satu suara sangat berarti untuk IndonesiaKita. Pemilih cerdas menggunakan hak pilihnya dengan cerdas. Tau siapa yang harus dipilihnya. Yang selalu mendekatkan diri kita kepadaNya.
Biarlah anak kemarin sore ini bebas menuliskan. Apa saja. Yang ia rasa hari ini.
Teringat pemilu lalu. Walau belum bisa memakai hak suara. Layaknya penonton bola yang hanya bisa menyaksikan di layar kaca. Serius. Acapkali bergumam tak jelas. Mengomentari. Melihat polling quick count saja deg-degan. Bahkan waktu itu aku tak memilih.
Tahun ini. Ini untuk pertama kali aku ikut memilih untuk IndonesiaKita. Menanti kebangkitan Islam di Indonesia.
"Kita tidak menghamba pada sistemnya, namun mengambil kebaikan dan peluang yang diberikannya. Partai hanyalah alat, dan alat akan tergantung pada siapa yang menggunakannya, sedangkan kita semua hanyalah manusia yang seringkali khilaf. Mari bersatu dan saling memaafkan, berjuang bersama partai-partai Islam." (Ust. Akmal Sjafril)
KOBARKAN SEMANGAT INDONESIA!
Dari kota nanas menuju kota belimbing untuk INDONESIA
Selasa, 08 April 2014, 23:35
Senin, 07 April 2014
Subang #2
"Kamu balik kapan?"
"Senin bii"
"Padahal selasa ajaa, bareng abi umi ke depoknya"
"Selasa sorenya ada uts bii"
"Ohh yaudah deh, kirain bisaa"
"Kamu balik selasa rah? Bareng"
"Senin mii, ada uts hari selasa"
"Ogitu"
"Eh, bisa deh. Matkulnya kan dibagi 2. Berarti bisa jumat utsnya. Dosennya woles kok"
"Yaudah selasa bareng ke depoknya"
*seneng*
*berpikir* *berpikir* *berpikir*
"Aku baliknya senin deh"
"Lah kenapa?"
"Gakpapa"
"Selasa aja, kan biar bareng gampang"
"Loh bukannya sarah selasa ada uts?"
"Utsnya bisa hari jumatnya"
"Oh yaudah, itu mah selasa aja baliknya"
"Tapi.."
"Kenapa? 'dipanggil' ya?"
*nyengir*
"Yaudah, izin, bilang kakaknya. Lagi pulang. Sama orang tua. Kapan lagi"
"Bukan kakak, temen aku..." *gakbisaberkata*
"Iya rah, selasa baliknya ya"
"..."
Maka aku akan selalu ada untuk mereka. Jangan sampai, mereka merasa 'kehilangan'. Mereka sudah sangat banyak memberikan kelonggaran. Memaklumi anaknya yang mondarmandir sanasini.
Ketika sabtu minggu luang, aku pakai untuk ke subang. Ketika mereka berkunjung ke depok, aku paksakan untuk bisa membersamainya.
Maka, akhirnya ada beberapa yang harus kutinggal. Mungkin banyak. Semoga Allah memaafkan..
Bahkan mereka tak pernah marah. Tak pernah melarang keras ini itu. Seringkali nasehat mereka tak kujalankan.
"Istirahat rah, izin dulu agendanya"
Seringkali pula aku tak mengabarkan kondisi tubuhku. Ketika kaki ini masih bisa menapak, aku bisa.
Ya Allah, ampuni..
Ya Allah, jadikanlah aku anak yang berbakti
Ya Allah, jadikanlah aku amanah
Subang, 8 April 2014
9:12
Subang #1
Aku, dengan keterbatasan diri. Jauh sekali dari baiknya pribadi.
Merenung, banyak sekali.
Melepas semua penat.
Tak bermaksut untuk hilang seperti tak bertanggung jawab.
Percayalah.
Takdir Allah yang menghantarkannya. Rencana hanya sebatas rencana.
Ada rasa bersalah. Banyak. Bahkan aku meninggalkan semuanya.
Maaf. Banyak sekali waktu yang harus aku singkirkan, untuk hanya bersanding denganmu, bercengkerama dengan kalian.
Bahkan 'kabur' hanya menjadi sebuah alasan.
Tangismu kemarin, menjadi luka untukku sendiri. Rasanya ingin selalu berada disisi.
Maaf. Karena kelemahan pribadi ini.
Harus terus menampakkan kekuatan dengan segala kelemahan pada diri.
Bahkan masa-masa sulit yang terjadi. Aku harus (tetap) kuat. Siapa lagi? Pada siapa?
Mungkin janji-janjiku kemarin, hanya menjadi angin. Astaghfirullah.
Percayalah. Mungkin ini akan menjadi sangat berat dirasa.
Sungguh, dengan segala keterbatasan ini, aku mencoba yang terbaik.
Walau yang dirasa yang terburuk. Maaf.
Subang, 8 April 2014
8:48
Selasa, 07 Januari 2014
Genap sudah satu tahun. Disini. Di kampus pendidikan dengan segala hiruk pikuk kehidupan. Rawamangun, Jakarta. Terhempas keramaian ibu kota. Ketika bertanya kenapa aku disini? Ketika bertanya kenapa aku berada di jurusan ini? Ya, disinilah tempat terbaik yang diberikanNya. Dengan segala ikhtiar yang dilakukan setahun silam. Aku yakin. Dan dengan perlahan, kutemukan jawabannya atas pertanyaan kenapa itu. Aku dihadiahi untuk bertemu dengan mereka semua disini. Betapa rasa sayang ini pada mereka. Berpuncak pada kasihNya. Aku mencintai mereka karena Allah.
8 september 2013. 20.32
8 september 2013. 20.32
KAU #1
Entahlah
setelah sekian lama aku melakukan perjalanan bolak balik Rawamangun-Depok belum
ada alternatif angkutan yang menjadikan
aku nyaman dalam perjalanan. Rasa tidak puas seakan menjalar. Mungkin ada yang
bisa ngasih saran? :| Apalah arti dari sebuah perjalanan, tapi ketika itu akan
menjadi sebuah kerutinan rasanya kok heeem gimana yaa, sesuatu deh :3 *oke
abaikan*
Lelahku
hilang begitu saja ketika tiba di rumah penuh kenangan ini. Entahlah, seperti
ada sebuah kenyamanan tersendiri ketika berada di rumah yang sudah ditempati
belasan tahun ini. Walau para penghuninya satu persatu sudah punya kesibukannya
masing-masing di berbagai daerah dan hanya berkumpul kembali pada momen-momen
liburan sekolah seperti ini. Langka dan aku tak ingin melewatkannya begitu
saja. Dengan sengatan sinar matahari selama perjalanan cukup membuat perjalanan
Rawamangun-Depok terasa lebih lama.
![]() |
| beli onlen pertama kali :3 |
Hey,
kau tahu apa yang aku dapatkan usai mengucap salam dan bergegas memasuki rumah.
Di atas meja cokelat itu, kau tahu apa yang kulihat? Bungkusan cokelat berlapis
plastik bening dengan stampel tanda pengiriman barang dan tertera namaku disana
sebagai penerimanya. Kau tahu, ini perasaan yang sama ketika SMA dulu, saat aku
memegang bungkusan cokelat yang aku terima ketika memesan buku dari seorang
penulis terkenal, penulis favorit kita. Entah perasaan apa ketika mendapatkan
bungkusan cokelat hasil pesanan langsung dari penulis terkenal itu. Ada rasa
senang tersendiri ketika mendapatkan langsung buku itu dari sang penulisnya.
Padahal aku tahu, puluhan bahkan ratusan orang juga sudah sering melakukan
pemesanan itu.
Dan
perasaan yang entah apa itu, kembali kurasakan siang ini. Ketika aku baru saja
tiba dari kota tempat menuntut ilmu saat ini. Kota yang sejak beberapa bulan
lalu menjadi tempatku berlabuh dan memulai episode kehidupan baru. Entah kota
apa lagi yang kaki ini akan injakkan pada episode hidupku nanti.
Langsung
kubuka bungkusan cokelat itu. Ya, bukumu sampai. Hei, jangan membuat aku
menangis saat membuka halaman pertama buku dengan kalimat darimu.
u/ kawan seperjuangan Sarah
Luthfiah.
Buku ini adalah kata penyapa ‘Hai’
yang akan dibalas dengan ‘Hello’ oleh Saluth. #maksudnya? I’ll be waiting ‘The
Best Author’ Saluth
Sangat
terharu aku membacanya :’) betapa semrawutnya dunia kepenulisanku sekarang.
Kalimat sederhana yang dengan dahsyatnya menamparku.
Tiba-tiba
saja pikiranku memutar masa lalu pada saat kampus peradaban menjadi tempat yang
masih ditemui kala membuka mata. Bermula dari celoteh dan satu mimpi kita yang
sama, yang pada saat itu bahkan aku hampir tidak yakin dengan terwujudnya mimpi
itu. Dengan rangkaian rencana yang terus kita susun untuk tercapainya mimpi
itu. Diselingi dengan tawa dan ucapan yang sering aku lontarkan, “ Tapi tidak
mungkinlah kita bisa mengundang dia kesini. Seperti mimpi sajalah jika kita
bisa membuat dia datang kesini.” Ucapan yang sering kali kau sanggah dan terus
yakin dengan mimpi kita. Ya, mimpi kita. Menghadirkan penulis terkenal itu. RencanaNya
memang indah. Terhitung bulan dan kita bisa mewujudkannya dengan
scenario-skenario dariNya. Kau tentu masih ingat bagaimana awal aku
menghubunginya lewat massage di facebook dengan hanya keisengan awal untuk
meminta motivasi dan tips untuk menulis, sampai pada akhirnya dia menyetujui
permintaanku untuk bisa mengisi acara kita. Antara percaya dan tidak. Antara
sikap lebayku dalam menghadapi situasi ini. Mungkin beginilah perasaan
seseorang yang bisa berhubungan dengan sosok idolanya yang sangat sangat sangat
diidolakan (oke, ini lebay -_-)
Haha
aku tersenyum mengingatnya. Ketika H-1 acara dan kita harus menelpon untuk
memastikan terkait penjemputan penulis itu. Ketika sangat groginya saat aku
menelpon bahkan susunan kata yang aku lontarkan nampak tak jelas (haha :3).
Ketika H-menit dan mobil jemputan itu belum tiba, dagdigdug hatiku itu rasanya
karuan tidak terkira menanti. Sampai pada akhirnya dikabarkan sudah tiba dan
sedang berada di kantor untuk istirahat dan makan siang, dan dengan tak
sabarnya kita untuk menemuinya. Ketika kau masuk ke ruangan lebih dulu untuk
menemuinya sedangkan seperti ada magnet padaku sehingga aku seperti tidak bisa ikut
masuk, haha aku sangat grogi saat itu. Ketika yang sangat penting terlupakan
yaitu membeli amplop untuk menaruh fee dan itu teringat di detik-detik ketika
penulis itu sudah ingin pulang dan menaiki mobil. Kau tentu masih ingat betapa
paniknya saat itu ketika menemaniku membeli amplop itu di syifamart. Sebut saja
Bang Tere, yang telah menyihir kita dan menjadi jalan pemersatu mimpi kita.
Kepingan
cerita yang selalu membuatku tersenyum sendiri dan yang selalu mengingatkanku
pada sebuah keyakinan mimpi.
Senja
di Surakarta.
![]() |
| ini sapaan 'Hai' |
Buku
yang menghadiri jiwa penulisnya pada setiap kata-kata. Tulisan yang selalu
kubayangkan si penulisnya dengan kertas dan pulpen selalu dipegangnya.
Kau
tahu, buku itu aku baca lepas sholat ashar dan dengan khusu membacanya tuntas
sebelum senja menjemput. Handphone yang terus bergetar aku hiraukan. Bahkan aku
hampir lupa menyalakan lampu yang sudah sangat redup dan memang harus
dinyalakan sore hari.
Terima
kasih. Doanya agar aku bisa segera membalas sapaanmu dengan ‘Hello’. Entah
kapan. Semoga sebelum kau menyapa dengan sapaan yang lain. :’))
Nb:
kata ganti ‘kau’ disini berlaku untuk banyak orang. Banyak ‘kau’ yang terlibat.
Apakah kau menjadi salah satu ‘kau’ pada tulisan ini? ;)
Setelah
sekian lama vakum menulis
Dan
langsung membuka folder tulisan dan melanjutkannya :)
29
Desember 2012, 21.56
Minggu, 08 September 2013
Perasaan lega
Lelah dengan keceriaan
Maka tangis ini tak pernah henti
Aku disini dengan seluruh amarah
Aku bersama dengan seluruh puing kepercayaan
Pantaskah
Lantas tak adakah rasa syukur
Layakkah
Maka kau kosongkan percaya diri
Lantangkan suaramu
Eratkan kasih yang tak terhingga
Karena Dia selalu bersama
Titipan ini tidak untuk diratapi
Semua ada ketika kau rasa
Rawamangun,
Ahad, 8 September 2013
dengan gejolak hati yang teredam. dan ucaplah istghfar.
Langganan:
Postingan (Atom)

